Selasa, 14 Mei 2013
peranan hati dalan kehidupan
Peranan Hati dalam Kehidupan
Allah berfirman yang artinya :"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk
(isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai
hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan
mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi)
tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu
sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah
orang-orang yang lalai". (QS. al-A'raf: 179)
Hati dalam bahasa al-Qur'an disebut dengan Qalbu (J: Qulub). Kata qalb
mempunyai makna membalik dikarenakan seringkali ia membolak balik ;
kadangkala senang, kadangkala susah, suatu saat setuju dan pada saat
yang lain menolak, sehingga amat berpotensi untuk tidak konsisten dalam
realitasnya. Para sufi memandang bahwa qalbu bermakna sesuatu yang
bersifat halus dan rabbani yang mampu mencapai hakekat sesuatu; mampu
memperoleh pengetahuan (al-ma'rifat) melalui daya cinta rasa
(al-zawqiyat), memperoleh puncak pengetahuan yang menghasilkan ilham
(bisikan suci dari Allah SWT), sehingga Kasyf (terbukanya dinding yang
menghalangi qalbu).
Qalb juga disebut sebagai salah satu fitrah nafsani yang mempunyai
kekuatan luar biasa (supra natural), maka potensi qalbu ini harus selalu
diarahkan agar berjalan sesuai dengan fitrahnya, berjalan secara
efektif dan mempunyai makna dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini
disebabkan potensi ini mempunyai peluang untuk diselewengkan (lari dari
fitrah) jika yang bersangkutan tidak mendengarkan suara hati yang lahir
dari hati nurani yang terdalam. Itulah sebabnya ditegaskan oleh Allah
(dalam surat al-A'raf: 179) bahwa manusia yang tidak mampu menggunakan
qalbunya sesuai dengan fitrah akan sesat bahkan lebih sesat daripada
binatang sekalipun.
Dari qalbu lahirlah karakter, kepribadian dan watak seseorang. Qalbu
adalah raja yang mampu menjadi penyebab kesuksesan atau hancurnya sebuah
keluarga bahkan negara. Mengapa? Sebab qalbu tersebut bagaikan Raja
Agung yang membuat rakyatnya (manusia) harus melakukan apa saja, baik
atau buruk, tergantung pada kondisi Raja (Qalb).
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa semua aktivitas yang dilakukan
manusia pada dasarnya bergantung pada qalbu, karena qalbu yang bersihlah
yang bisa selamat dan berjalan sesuai dengan fitrah yang telah
digariskan oleh Allah SWT. Keberadaan qalbu juga penentu dalam meraih
kehidupan yang bermakna, orang yang hatinya tertata dengan baik, maka ia
akan terpelihara dan terawat sebaik-baiknya. Qalbu yang senantiasa
terpelihara, serta terawat dengan sebaik-baiknya, pemiliknya akan
senantiasa merasakan lapang, tenang, tenteram, sejuk dan indah di dunia
ini.
Mereka tak pernah merasa gelisah, tak pernah bermuram durja, dan tak
pernah gundah gulana. Kemanapun pergi dan dimanapun berada, ia
senantiasa mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam
kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan
menenteramkan. Dirinya mampu memancarkan hikmah yang mampu memberi
uswah (paternalistik) yang tinggi kepada orang-orang yang di
sekelilingnya.
Peranan Qalbu yang lain adalah memiliki daya rasa. Salah satunya adalah
rasa CUKUP dan rasa inilah yang menjadi indikator seseorang sebagai
orang kaya yang tidak pernah mengemis dan tidak akan memakan hak orang
lain atau korupsi. Akan tetapi untuk mendapatkan rasa CUKUP ini harus
melampaui 3 tahapan, yaitu :1) Tingkatan Tenang, 2) Tingkatan Damai dan
3) Tingkatan Bahagia. Setelah itu baru sampai pada tingkatan Rasa CUKUP.
Tingkatan inilah merupakan tingkatan kehidupan yang paling tinggi
nilainya, sehingga pemilik Qalbu seperti itu mampu melaksanakan "Tangan
di atas lebih baik dari pada tangan di bawah" hidup tanpa pamrih, dan
selalu dihiasi oleh senyum yang nyata.
Allah SWT berfirman dalam surat As Sajdah ayat 9 yang artinya : "Kemudian
Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) roh (ciptaan) Nya
dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati;
(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur."
Ayat ini memberikan isyarat bahwa manusia terlahir dengan dibekali
potensi (kecerdasan) ruhaniah, yaitu kemampuan seseorang untuk
mendengarkan hati nuraninya atau bisikan kebenaran dari Sang Ilahi dalam
cara dirinya mengambil keputusan atau melakukan pilihan-pilihan, dan
beradaptasi.
Kecerdasan ruhaniah sangat ditentukan oleh upaya untuk membersihkan dan
memberikan pencerahan qalbu (tazkiyah, tarbiyatul quluub) sehingga mampu
memberikan nasihat dan arah tindakan serta caranya kita mengambil
keputusan. Qalbu harus senantiasa berada pada posisi menerima curahan
cahaya ruh yang bermuatan kebenaran dan kecintaan kepada Ilahi.
Rasullullah SAW bersabda yang artinya : "Mintalah nasihat pada
dirimu, mintalah nasihat pada hati nuranimu wahai Habishah (nabi
mengulanginya tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa
tenang dan membuat hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang membuat jiwa
tidak tenteram dan terasa bimbang di dalam hati." (HR. Ahmad).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peranan hati dalam
kehidupan, adalah sebagai motor (penggerak) proses berfikir, berzikir
dan bertindak, sehingga produknya berdasarkan proses tersebut. Wallahu
a'lam.
Khatib : Prof. Dr. H. M. Nasir Budiman, MA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar